UNSRAT Repository

Menemukenali hadrah Selawatan Melayu di Minahasa Sulawesi Utara sebagai Kearifan Lokal

Arbie, Rosijanih (2010) Menemukenali hadrah Selawatan Melayu di Minahasa Sulawesi Utara sebagai Kearifan Lokal. KARYA ILMIAH.

[img]
Preview
PDF
Download (1790Kb) | Preview

    Abstract

    Hadrah, yang dahulu disebut selawatan Melayu, kini tampil dengan performen yang unik dan mempesona dengan mengolaborasikan budaya Minahasa, Melayu, Aceh, Padang dan Palembang. Hadrah lazimnya tampil berkaitan dengan Hari-Hari Besar Islam, pernikahan, hajatan keluarga, silaturahmi kekerabatan dan kegiatan resmi pemerintah –atas permintaan. Nilai, keunikan dan ciri khasnya tercermin lewat gaya yang bernuansa Aceh, Palembang, Padang dan Minahasa, kostum ala Melayu Minahasa, pemilihan dan penggunaan bahasa, yaitu Indonesia, Arab dan Jaton, bahkan kini dimodifikasi dengan bahasa Gorontalo dan Melayu Manado dan ritme lagu berirama Melayu serta isinya mengandung fadhilah. Mulanya, hadrah diperkenalkan para pejuang asal Aceh, Padang dan Palembang yang ketika itu diasingkan pemerintah kolonial Belanda pada masa Perang Diponegoro 1825-1830, sehingga bermukim di Kampung Jawa Tondano. Hadrah, kini populer di masyarakat seSulawesi Utara dan Gorontalo –dahulu termasuk wilayah Sulawesi Utara- sebab setiap tahun dalam kurun waktu lima tahun terakhir dijadikan sebagai ajang dalam Festival Seni Budaya Jaton berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad saw., yang tahun ini diselenggarakan di Desa Ikhwan Kabupaten Bolaang Mongondow. Hadrah selama ini berfungsi sebagai syiar, mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh ikatan kekerabatan antar –suku- bangsa. Dengan urgensitas inilah hadrah hingga kini dilestarikan dan berkembang secara dinamis di masyarakat Jaton khususnya dan masyarakat seSulawesi Utara dan daerah sekitar pada umumnya. Hadrah sebagai hasil inovasi spektakuler para pendahulu telah membawa dampak positif bagi masyarakat Jaton sekaligus dapat diterima di berbagai kalangan masyarakat yang terdapat di Sulawesi Utara bahkan daerah sekitarnya. Alhasil, hadrah dapat menjadi pilar penyanggah, membangun jiwa patriot, menumbuhkan semangat nasionalisme dan membentuk karaker –suku- bangsa serta kekuatan dan ketahanan dalam mengantisipasi berbagai gejolak social yang merambah daerah Nyiur Melambai menghadapi lajunya arus globalisasi dan informasi. Mudah-mudahan fakta substansial hadrah sebagai seni –sastra- yang hidup dan berkembang sampai ke pelosok daerah yang ikut menumbuhkembangkan dan membentuk sikap kebangsaan bagi masyarakatnya layak mendapat perhatian dan penghargaan ‘konglomerat’ sastra terutama pihak pemerintah dalam upaya mencari identitas dan karakter –suku- bangsa. Pelestarian inilah merupakan sebuah kearifan local dalam menemukenali hadrah yang –dahulu- disebut selawatan Melayu -klasik, kini menjadi hadrah modern yang dinamis dan mengikuti perkembangan zaman.

    Item Type: Other
    Subjects: Q Science > Q Science (General)
    Divisions: Fakultas Sastra > Sastra Jerman
    Depositing User: Steven Ch. Kaunang
    Date Deposited: 30 May 2013 10:14
    Last Modified: 30 May 2013 10:14
    URI: http://repo.unsrat.ac.id/id/eprint/348

    Actions (login required)

    View Item